Beranda News Banyuwangi Bupati Anas : Setiap Warga Miskin Yang Hidup Sendiri dan Rumah Tak...

Bupati Anas : Setiap Warga Miskin Yang Hidup Sendiri dan Rumah Tak Layak Huni, Kita Bedah

977
0
Ilustrasi

Radiobintangtenggara.com, BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, terus menggenjot program pengentasan kemiskinan. Di antaranya dengan melakukan bedah rumah warga miskin.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, program ini dilakukan secara bergotong royong dengan banyak pihak. Anas menyadari tidak mungkin menangani masalah kemiskinan ini hanya dengan tangan pemkab.

“Kami menggandeng TNI AD dan mengajak PLN. Dananya susah tersedia,” jelas Anas.

Dalam program ini setiap warga miskin yang tinggal sebatang kara dengan rumah yang tidak layak langsung akan cepat ditangani.

“Rumahnya kita bedah, diberi bantuan sembako secara reguler, dan juga pemeriksaan kesehatan rutin dari Puskesmas terdekat,” kata Anas saat meninjau kediaman Asnapah yang sedang dibangun, Kamis (20/4).

Asnapah, adalah Warga Dusun Panggang, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah. Dia tinggal sebatang kara di sebuah rumah tak layak huni yang menumpang di tanah orang.

Selain itu, Anas telah mendelegasikan ke tingkat desa untuk program bantuan yang bersifat primer bagi warga miskin. Seiring iu, imbuh dia, pemkab menambah dana transfer daerah ke desa untuk membantu pengangan kasus-kasus yang butuh penanganan cepat.

“Akan sangat lambat jika penanganan warga miskin ini, harus menunggu persetujuan bupati. Jadi, biar cepat diatasi kami mendistribusikan kebijakan hingga ke tingkat desa,” tuturnya.

Pada tahun 2017 ini, pemkab telah memberikan instruksi kepada desa untuk mengalokasikan anggaran bedah rumah bagi warganya. Tercatat APBdes telah menganggarkan Rp 9,1 miliar untuk merenovasi 969 rumah tak layak.

Sementara itu, Camat Glagah Astorik menjelaskan bahwa rumah Mbah Nduk panggilan akrab Asnapah, ini telah direnovasi sejak satu minggu lalu.

“Suami dan dua orang anaknya telah meninggal. Sekarang tinggal saudara iparnya, Samih, yang juga tinggal sendiri,” ungkap Astorik.

Dengan kondisi demikian, kepala desa setelpat lalu berinisiatif untuk melakukan relokasi ke tanah almarhum kakaknya, Darmin, yang kini ditempati oleh saudara iparnya, Samih. Relokasi ini sekaligus merenovasi kediaman Mbah Nduk.

“Agar lebih nyaman tinggal berdekatan dengan keluarga. Selain itu, juga lebih mudah untuk memantau perkembangannya. Karena keduanya merupakan janda lanjut usia yang harus dibantu,” pungkas Astorik.

Hermawan

LEAVE A REPLY