Beranda News Banyuwangi Jelang Ramadhan, GP ANSOR Srono Gelar Gerakan Bersih-bersih Masjid

Jelang Ramadhan, GP ANSOR Srono Gelar Gerakan Bersih-bersih Masjid

1177
0
Pemuda Ansor dan para santri melakukan pengecatan kubah Masjid

Radiobintangtenggara.com, SRONO – Dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1438 H, Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Srono, mengadakan kegiatan Gerakan Bersih Bersih Masjid (GBBM), di Masjid Darul Falah, Desa Sukomaju, Srono, Kamis (25/5).

Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) ini, merupakan rangkaian dari sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh GP Ansor Srono. Rencananya kegiatan GBBM ini akan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Bersih-bersih yang dilakukan di Masjid yang berada di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Nahdlatul Thullab pimpinan Alm. KH Dimyati Syafi’i yang merupakan tokoh NU kharismatik ini, bukan semata-mata hanya membersihkan Masjid dari debu kotoran saja, melainkan juga sebagai bentuk kepedulian Ansor kepada tempat ibadah untuk bersama menumbuhkan kembali budaya gotong-royong yang semakin terkikis.

“Gerakan Bersih Bersih Masjid ini kalau dijabarkan merupakan bentuk manifestasi dari nilai-nilai Pancasila dan menumbuhkan kembali identitas warga Indonesia agar tidak menjadi introvert,” kata Afadah, Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Srono, kepada radiobintangtenggara.com.

GP ANSOR SRONOKegiatan GBBM ini, lanjut Afadah, diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan membersihkan pagar bagian depan, serambi, tiang, dan sejumlah ruangan lain di dalam masjid. Bahkan kubah yang sebelumnya terlihat kotor, kini sudah terlihat bersih.

Menurut Afadah, dipilihnya Masjid Darul Falah untuk kegiatan GBBM ini bukan tanpa alasan, sebab di lingkungan Ponpes Kiai Dimyati ini mempunyai nilai historis yang luar biasa bagi warga Nahdliyin pada masa lampau.

“Nguri-nguri sejarah tentang perjuangan tokoh NU ini sangat bermanfaat. Selain untuk menumbuhkan nilai iman dan Islam, juga sebagai penyemangat dalam perjuangan NU,” cetusnya.

Sekedar diketahui, Pondok Pesantren Nahdlatul Thullab yang berada diperbatasan antara Desa Kepundungan dan Desa Sukomaju ini dahulu menjadi tempat tinggal Kiai Dimyati bersama Laskar Hisbullah. Dalam sejarahnya, Ponpes ini pernah diserbu dan dibakar oleh Pasukan Sekutu Belanda.

Dalam penyerbuan tersebut, Sekutu tak hanya mengobrak-abrik para santri. Tetapi juga membumihanguskan pesantren beserta kediaman Kiai Dimyati yang berada di satu tempat itu.

Kendati demikian, tak mengurangi rasa perlawanan Kiai Dimyati. Meskipun sempat bersembunyi di daerah Tegalpare, Muncar. Namun disana ia menyusun kekuatan kembali untuk melakukan perlawanan kepada para penjajah. Bahkan, perlawanan Kiai Dimayati dan para pejuang semakin menjadi-jadi kala tahu pesantrennya terbakar.

Mengetahui akan kesalahannya telah membakar pesantren, Sekutu mencoba menyebarkan sas-sus bahwa pembakaran pesantren itu hanyalah kesalahpahaman. Namun, hal itu tak mampu meredam semangat jihad para pejuang. Mereka terus melakukan perlawanan secara gerilya.

Gagal mempengaruhi para pejuang, Sekutu menggunakan serangan membabi buta. Ia siksa rakyat kecil yang tak kuasa untuk melawan. Perempuan dan anak-anak yang ditinggal para suaminya untuk berjuang disiksa oleh Sekutu. Hal ini dilakukan agar para pejuang tak lagi melakukan serangan.

Melihat penderitaan rakyat yang lemah itu, Kiai Dimyati tak kuasa menahan dirinya. Ia akhirnya menyerahkan diri ke Sekutu demi meredam aksi kejam membabibuta Pasukan Sekutu itu. Komando perjuangan ia serahkan kepada yang lainnya. Akhirnya, ia meringkuk dalam penjara.
Pada tahun 1949 setelah Sekutu hengkang dari Indonesia, Kiai Dimyati kembali dibebaskan setelah ditahan selama 29 bulan.

Sekembalinya ke Ponpes yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Kepundungan tersebut, Kyai Dimyati kembali membenahi Pesantren Nahdlatul Thullab yang luluh lantak oleh serangan Sekutu itu. Dengan kerja keras dan berkat bantuan dari Presiden Indonesia Ir. Soekarno kala itu, Pesantren Nahdatul Thullab berhasil dibangun kembali dengan lebih baik.

Perjuangan mengangkat senjata tak lagi dilakukan. Kiai Dimyati bersama para santrinya berjuang dengan mengangkat pena, melawan kebodohan.

RIZKI RESTIAWAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here