Beranda News Banyuwangi Pedagang Buah Musiman Mulai Bermuculan di Bulan Ramadhan

Pedagang Buah Musiman Mulai Bermuculan di Bulan Ramadhan

1059
0
Lapak Bu Ami yang ada di jalan raya pakistaji, Kecamatan Kabat.

Kabat – Siapa yang tidak kenal dengan blewah. Buah yang satu ini sering kita jumpai saat bulan puasa tiba. Blewah memang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, terlebih buah unik ini sering dijadikan minuman saat berbuka puasa.

Biasanya masyarakat memanfaatkan blewah untuk diambil dagingnya dan dijadikan minuman dingin dengan campuran sirup. Rasanya yang khas dan menyegarkan tenggorokan, cocok sebagai minuman penghilang dahaga ketika buka puasa tiba.

Ternyata buah yang satu ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang buah musiman di Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi. Puluhan lapak para pedagang buah musiman itu sudah berjajar rapi di atas meja warung seadanya di sepanjang jalan raya pakistaji, tepatnya di selatan jembatan tambong, Kabat.

Mereka sengaja menjajakan blewah, untuk memanfaatkan momen datangnya bulan Ramadan. Apalagi, dibeberapa wilayah di Kabupaten Banyuwangi memang saat ini sudah mulai memanen buah khas ramadhan tersebut.

Menurut Ani, 50, salah satu pedagang musiman yang setiap tahun rutin menjual blewah mengatakan, dirinya sudah berjualan sejak tiga hari lalu. Ani, sengaja buka lapak lebih awal karena memanfaatkan panen blewah yang ada di Desa Pakistaji yang cukup melimpah.

Selain itu buka lebih awal juga dirasa menguntungkan, sebab saat ini blewah banyak dicari warga untuk berbuka puasa. “Saya berjualan dari jam 7 pagi sampai jam  5 sore mas, alhamdulilah sehari bisa laku sampai 15 buah” kata Ani kepada radio bintang tenggara. Minggu (5/6)

Dari pengalaman pada saat Ramadan tahun lalu, penjualan blewah terus melonjak dan meraup keuntungan yang lumayan cukup banyak. Berdasarkan dari pengalaman itu, Ani yakin dan percaya diri pada Ramadhan tahun 2016 ini, dirinya bisa mendapatkan untung yang berlimpah seperti yang ia dapatkan pada tahun lalu.

Untuk harga sendiri, ia tidak mematok dengan nominal yang tinggi. Satu biji ukuran besar ia jual dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu, sedangkan ukuran paling kecil dijual Rp 3 ribu.

Munculnya para pedagang dadakan buah musiman tersebut, membuat kondisi jalan di sepanjang Pakistaji lebih ramai dari hari biasanya.

Rizki Restiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here