Beranda News Cegah Kepunahan, Pemkab Situbondo Paksa Kawin Banteng Jawa

Cegah Kepunahan, Pemkab Situbondo Paksa Kawin Banteng Jawa

856
3
Banteng Jawa (Bos Javanicus) hewan endemik kawasan Taman Nasional Baluran yang semakin tahun kondisi jumlahnya semakin menyusut. (Foto. Repro.)

Radiobintangtenggara.com, SITUBONDO – Pemerintah Kabupaten Situbondo Jawa Timur, melakukan program perkawinan silang antara sapi Bali dengan  banteng Jawa (Bos Javanicus). Program  perkawinan silang itu dilakukan sejak medio April 2017.

Bupati Situbondo Dadang Wigiarto mengatakan hingga kini dua sapi Bali sedang proses perkawinan di kandang buatan yang berada di Dinas Pertanian Situbondo. Dalam program tersebut Pemerintah Situbondo meminjam satu ekor Banteng Jawa jantan dari Taman Nasional Baluran.

Dadang mengatakan perkawinan silang tersebut untuk memulihkan populasi banteng yang menjadi maskot Taman Nasional Baluran. Pemerintah Situbondo merasa bertanggung jawab untuk tetap menjaga ekosistem banteng.

“Sebab Taman Nasional Baluran masuk dalam kawasan Kabupaten Situbondo,” katnya.

Baca Juga. Tak Terima Aturan Permen Nomor 23, Ratusan Masa PMII Gruduk Kantor DPRD Situbondo

Dadang menambahkan hasil perkawinan silang itu nantinya akan diserahkan ke pihak Taman Nasional Baluran untuk dilepas liarkan di kawasan hutan Baluran.

Mengingat berkurangnya banteng-banteng yang dulu menjadi kejayaan dan nama besarnya Taman Nasional Baluran menjadi atensi Pemerintah daerah untuk melakukan pemulihan, diantaranya dengan mengawinkan sapi Bali dengan ensiminasi buatan dengan banteng.

“Nantinya akan menggunakan pola kerja samakan dengan Taman Nasional Baluran,” ujar Dadang.

Baca Juga. Tak Dapat Bantuan, Kasan dan Keluarganya Tinggal di Rumah Kumuh

Lebih lanjut, Dadang menjelakan Populasi banteng kinii berkurang drastis. Pada sekitar tahun 1970, jumlah banteng di Taman Nasional Baluran mencapai 150-200 ekor. Namun pada tahun 2015 lalu, jumlah banteng tercatat hanya terisa 26 ekor saja.

Berkurangnya populasi banteng itu, disebabkan berbagai faktor. Diantaranya karena perburuan liar, menyempitnya habitat dan terdesak oleh sapi liar.

“Sempitnya habitat ini karena  meluasnya tanaman akasia sehingga rumput yang menjadi makanan banteng  tidak dapat tumbuh dengan baik,” pungkasnya.

ZAINI ZAIN

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY