Beranda News Banyuwangi Karena Kecewa, Puluhan Warga Pakel, Lakukan Aksi Demo

Karena Kecewa, Puluhan Warga Pakel, Lakukan Aksi Demo

15
0

Radiobintangtenggara.com, Banyuwangi – Puluhan warga Desa Pakel, Kecamatan Licin, Banyuwangi, demo Mapolres setempat, Rabu (7/8/2019). Aksi ini adalah klimaks kekecewaan masyarakat atas kinerja jajaran Satreskrim, yang dinilai berat sebelah.

Khususnya dalam penanganan pengaduan serta laporan antara pihak ahli waris tanah Pakel dan perusahaan perkebunan PT Bumi Sari. Puncaknya, saat Kepolisian menerapkan Pasal 170 KUHP, atas kasus Musanif.

“Wahai para penegak hukum, tegakkan hukum di Banyuwangi, tindak lanjuti laporan kami, jangan hanya laporan PT Bumi Sari,” teriak Syamsul Mu’arif, selaku koordinator aksi.

Untuk diketahui, pada Selasa, 30 Juli 2019, Musanif cs selaku ahli waris tanah Pakel, terlibat adu jotos melawan tiga orang Security PT Bumi Sari, Budi, Mat Robi dan Misrono.

Kesaksian warga, insiden yang teradi diterminal Pakel tersebut diawali dengan Budi yang menyerang Musanif dengan mencekik dibagian leher. Naluri manusia, Ketua Forum Pemuda Peduli Tanah Kelahiran Desa Pakel tersebut sontak melakukan pembelaan diri. Dan adu jotos pun terjadi.

Begitu dilaporkan, oleh Satreskrim Polres Banyuwangi, Musanif langsung ditangkap dan ditahan dengan jeratan Pasal 170 KUHP. Dengan kata lain, meski merasa menjadi korban penyerangan, atas dasar pembelaan dirinya, dia malah dituding sebagai pelaku pengeroyokan.

Dalam demo yang berlangsung tertib tersebut, Ketua Forum Suara Blambangan (Forsuba), H Abdillah Rafsanjani, selaku pendamping ahli waris tanah Pakel, juga ikut berorasi. Dengan tegas dia meminta Kepolisian, dalam hal ini, jajaran Satreskrim Polres Banyuwangi, untuk bertindak profesional.

“Indikasi tebang pilih Reskrim Banyuwangi sudah kita laporkan ke KPK, Kabid Propam, Kapolda Jawa Timur dan Tim Saber Pungli,” tegasnya.

Mantan Panglima Pasukan Berani Mati era Gus Dur yang kini maju dalam kontestasi Pemilihan Bupati (Pilbup) Banyuwangi, tahun 2020, ini juga menyampaikan bahwa kasus tanah Pakel akan segera dilaporkan ke Presiden Jokowi.

Selama mendengarkan orasi, puluhan warga yang terdiri dari pria dan wanita membengangkan sejumlah spanduk protes kepada Polres Banyuwangi. Tulisan terpampang diantaranya, ‘Kasus adu jotos antara security perkebunan PT Bumi Sari lawan ahli waris tanah Pakel, Selasa 30 Juli 2019 jam 11.00, di area tanah Pakel adalah wujud tebang pilih dan lambatnya Satserse Banyuwangi dalam penegakan hukum’. ‘Segera periksa dan amankan pimpinan PT Bumi Sari’ dan ‘Perkebunan telah memasuki dan menguasai tanah wilayah pakel untuk perkebunan tanpa hak kurang lebih 36 tahun dan merugikan keuangan negara dari pendapatan PBB’.

“Polisi jangan tebang pilih, periksa Djohan Soegondo, bos PT Bumi Sari, yang telah mencaplok tanah ahli waris Pakel, dan apakah warga merasa pernah diintimidasi?!,” lantang Abdillah disambut yel-yel massa tanda membenarkan.

Puas menyampaikan aspirasi, lima orang perwakilan demonstran ditemui perwakilan Polres Banyuwangi. Yakni, Kasat Intel, Iptu Sudarso SH, Kasat Reskrim, AKP Panji Pratistha Wiyaja SH SIK, dan Kasat Sabhara, AKP Basori Alwi. Sayang apa yang menjadi pokok bahasan mediasi tidak terpantau awak media lantaran dilakukan secara tertutup.

Sementara itu, terkait insiden adu jotos, Budi, Security PT Bumi Sari, membantah telah mencekik leher Musanif. Menurutnya, justru Musanif yang menyerang terlebih dahulu, bahkan menggunakan senjata tajam.

“Musanif itu mengejar Mat Robi sambil membawa senjata tajam, spontan saya rekam video, saya tidak pernah menyerang,” katanya.

Budi juga menegaskan bahwa dia dan dua rekannya saat itu bertemu Musanif cs dengan tanpa disengaja. Ketika hendak pulang untuk istirahat siang.

Dalam kasus perseteruan ahli waris tanah Pakel dengan perusahaan perkebunan PT Bumi Sari, warga menganggap Satreskrim Polres Banyuwangi, berat sebelah. Laporan dari PT Bumi Sari, dinilai lebih cepat tertangani. Salah satu contoh laporan bahwa warga telah menyerobot lahan perkebunan.

Padahal, dalam Surat Nomor 280/600.1.35.10/II/2018, tertanggal 14 Februari 2018, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuwangi, telah menyampaikan bahwa Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan perkebunan PT Bumi Sari terpecah dalam 2 sertifkat. Yakni Sertifikat HGU Nomor 1 Desa Kluncing, Kecamatan Licin, seluas 1.902.600 meter persegi, dan Sertifikat HGU No 8 Desa Bayu, Kecamatan Songgon, seluas 11.898.100 meter persegi. Atau dengan luasan total 1.189,81 hektar.

BPN Banyuwangi juga menegaskan bahwa tanah Desa Pakel tidak disewakan atau tidak masuk dalam Sertifikat HGU PT Bumi Sari.

Lalu seperti apa peta geografi Desa Pakel?. Ini pun dengan gamblang telah diterangkan dalam Surat Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, tahun 2015, Nomor 188/402/KEP/429.011/2015, tentang Penetapan dan Penegasan Batas Desa Pakel, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi.

Terkait penerapan Pasal 170 KUHP terhadap Musanif, menurut Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Pratistha SH SIK, akan ditinjau ulang oleh pihak Kejaksaan.

“Memenuhi unsur atau tidak nanti berdasarkan penelitian dari Kejaksaan,” katanya.

Rencananya, aksi serupa akan kembali digeber warga Desa Pakel, Kecamatan Licin, Banyuwangi, secara bergelombang. Dengan sasaran sejumlah instansi terkait. Tujuannya, untuk memperjuangkan hak tanah warisan leluhur dari pengelolaan perusahaan perkebunan PT Bumi Sari. (*)

Khoirul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here