Banyuwangi

Warga Kalibaru Kembali Dengar Suara Gemuruh Gunung Raung

Radiobintangtenggara.com, KALIBARU – Fenomena suara gemuruh juga dirasakan warga Kalibaru Banyuwangi. Mujayanah, warga Sumberbaru Kalibaruwetan Banyuwangi mengaku mendengar suara gemuruh yang berasal dari Gunung Raung, Jawa Timur.

Menurutnya Mujayanah suara tersebut merupakan hal yang wajar di tengah aktivitas vulkanik Gunung Raung yang sedang meningkat. Ia yang tiap harinya berkerja di perkebunan tebu di Kebun Gunung Raung Kalibaru menyampaikan bahwa suara gemuruhnya selain terdengar dari rumah juga terasa di sekitar perkebunan.

“Warga sekitar yang sering beraktivitas di perkebunan mengaku biasa dan tidak panik dengan suara itu,” katanya saat mengudara di FM 95,6 Bintang Tenggara Banyuwangi.

Sebab Gunung Raung merupakan gunung api aktif dengan ketinggian 3.332 meter di atas permukaan laut. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso, Jawa Timur, tersebut kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dalam dua minggu terakhir.

Sebelumnya informasi terdengarnya suara gemuruh dari Gunung Raung banyak diperbincangkan pendengar Bintang Tenggara Banyuwangi baik di sebagian wilayah Kalibaru Banyuwangi maupun warga di Sumberjambe Jember.

Sementara itu, Eka Muharam Suriyadi, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi mengatakan suara gemuruh yang terdengar masyarakat di kawasan kaki gunung Raung di wilayah Kabupaten Banyuwangi mulai Kalibaru, Glenmore, Sempu dan Songgon merupakan hal normal.

Sebab suara gemuruh sudah sempat terpantau hingga Jember sudah terdengar sejak 22 Juli 2020. Suara gemuruh merupakan ciri Gunung Raung dengan kaldera yang besar. Jika melihat data letusan-letusan sebelumnya suara tersebut mahfum terdengar.

Suara itu diakibatkan cekungan kawah yang besar menimbulkan rongga udara sehingga ada efek resonansi dari letusan-letusannya. Ia menghimbau masyarakat tidak perlu panik, sebab sampai sekarang tidak ada peningkatan aktivitas yang signifikan.

“Aktivitas masih berpusat di kawah kecil di tengah kaldera, hingga radius dua kilometer,” pungkasnya.

Fareh Hariyanto

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top