Beranda News Banyuwangi Benarkah Menak Jinggo Raja Blambangan? Simak Cerita Ini

Benarkah Menak Jinggo Raja Blambangan? Simak Cerita Ini

1438
4
Sumber foto : motifkunik.blogspot.com

Radiobintangtenggara.com, BANYUWANGI – Seiring dengan berjalannya waktu, eksistensi Kabupaten Banyuwangi yang kerap muncul diberbagi media masa membuat wilayah ini makin dikenal oleh khalayak luas. Hal ini tentu tak lepas dari peran seorang pemimpin yang berhasil mengendalikan tongkat komando di wilayahnya.

Beberapa peristiwa penting yang pernah terjadi di kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini, dari dulu hingga sekarang memang kerap menjadi sorotan publik. Bahkan, ada diantaranya menjadi isu Nasional yang hingga detik ini masih menjadi misteri.

Tampil seksi dengan membawa nama besar Kerajaan Blambangan, Kabupaten Banyuwangi memang selalu menjadi perhatian orang banyak. Bahkan, tak sedikit yang penasaran. Ada apa, dan mungkinkah ada sesuatu dibalik nama Blambangan hingga membuat nama Banyuwangi kerap menjadi sorotan.

Dewasa ini, saat menyebut nama Blambangan, maka sosok yang keluar adalah ‘Menak Jinggo’. Konon, tokoh tersebut merupakan Raja Blambangan yang dimanifestasikan oleh banyak masyarakat Banyuwangi sebagai seorang pemimpin atau pahlawan Blambangan yang mempunyai jiwa corsa dengan tubuh gagah perkasa dengan bersenjatakan gada emas di tangan kanannya.

Kepercayaan masyarakat Banyuwangi mengenai Raja Blambangan yang satu ini memang sudah mendarah daging. Bahkan, kebanyakan dari masyarakat seakan kurang bisa menerima jika ada orang atau sekelompok yang mencoba mematahkan alur cerita yang sudah turun-temurun itu.

Disisi lain, ada cerita rakyat dari Banyuwangi tentang Damarwulan yang hingga ini juga masih eksis turun temurun. Tapi sebelum masuk ke alur cerita itu, ada sepenggal kisah pengantar yang nyaris dilupakan orang.

Begini ceritanya.

Tersebutlah seorang ratu dari Majapahit bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu. Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6.

Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan, itu.

Salah satu kerajaan yang menjadi incaran Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti mandraguna dan arif bijaksana. Ratu Majapahit itu pun berupaya menundukkannya dengan sebuah sayembara.

Dalam sayembara itu berbunyi “Barangsiapa yang mampu mengalahkan Adipati Kebo Marcuet, maka dia akan ku angkat menjadi Adipati Blambangan yang baru, menggantikan dia.”

Demikian maklumat Ratu Ayu Kencana Wungu yang dibacakan di hadapan seluruh rakyat Majapahit.

Sayembara itu diikuti oleh puluhan orang. Namun semua gagal mengalahkan kesaktian Adipati Kebo Marcuet. Hingga suatu hari datanglah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa bernama Jaka Umbaran.

Rupanya, Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet, bahwa Adipati itu hanya dapat dikalahkan dengan pusakanya sendiri.

Maka, dia memerintahkan Dayun sahabatnya untuk mencuri pusaka tersebut dan dengan senjata Gada Wesi Kuning (yang dicurinya dari Menak Jinggo sendiri), akhirnya Jaka Umbaran berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet.

Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira dengan kekalahan Adipati Kebo Marcuet. Ia pun menobatkan Jaka Umbaran menjadi Adipati Blambangan yang baru dengan gelar Menak Jinggo.

Alhasil, hingga saat ini gelar Minak Jinggo yang disematkan oleh Ratu Ayu Kencana Wungu atas jasa Jaka Umbaran yang berhasil membunuh Kebo Marcuet pun terbawa arus masa hingga hari ini.

Mirisnya, Adipati Blambangan yang sesungguhnya, yakni Kebo Mercuet, saat ini hanya tinggal nama saja. Pahlawan dan pejuang sejati yang dihinakan dan dianggap sebagai makhluk bertanduk seperti kerbau ini, seiring dengan berjalannya waktu seakan dilupakan oleh masyarakat.

Hingga detik ini, orang menganggap jika cerita yang beredar tersebut adalah 100 persen mempunyai kebenaran yang mutlak. Bahkan, kerancuan sejarah Blambangan seakan menjadi hal yang biasa saja dan bukan menjadi persoalan.

Jika hal ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin tantangan generasi mendatang terkait sejarah yang mendekati benar ini akan susah untuk diluruskan. Bahkan, tumpang tindih antara Bhre Wirabhumi, Kebo Mercuet, Jaka Umbaran, Menakjinggo, Bhre Narapati, dan Damarwulan, akan terjadi apabila semua pihak tidak membuka wawasan dalam pemahaman sejarah Blambangan. (bersambung)

_________________
Catatan: Kebo/Lembu/Mahisa adalah gelar kebangsawanan, putera seorang raja. Dengan nama Kebo, berarti dia putera raja yang ditempatkan di Blambangan. Lebih tepatnya, Putera Raja Hayam Wuruk yang menjadi raja di Blambangan.

Oleh : Mas Aji Wirabhumi (Blambangan Kingdom X-Plorer)

Editor : Rizki Restiawan

4 KOMENTAR

  1. Hanya seni budaya janger banyuwangi, yg selalu melestarikan cerita budaya blambangan, namun sedikit berbeda dg yg diceritakan seni budaya janger banyuwangi.

    • Dan memang sejarah minak jinggo dan damarwulan itu TIDAK ADA DI BLAMBANGAN.
      Cerita itu tertulis dalam serat kanda.
      Cerita sejarah blambangan tidak ada tokoh dengan nama nama itu.
      Kalopun ada yang identik dengan cerita itu adalah di MANDALA WIRABHUMI (banger/prolinggo-sebagian patukangan/panarukan/ situbondo) antara bhre wirabhumi 2 (aji rajanatha) dengan bhre wirabhumi 3 ( gajah narapati) dan prabu setri Suhita (kencono wungu)…

LEAVE A REPLY