Beranda News Banyuwangi Putus Sekolah Hingga Menikah di Usia Muda

Putus Sekolah Hingga Menikah di Usia Muda

54
0
Proses produksi Sambel Bebiniq (Foto : Ika Ningtyas/BintangTenggara.com)

Kisah-kisah di Balik Sambal Bebiniq (Bagian 2)

Radiobintangtenggara.com, WONGSOREJO – Susilawati dan Nur Fatimah, menjadi anggota termuda pada kelompok usaha Sambal Bebiniq di Kampung Bongkoran, Wongsorejo, Banyuwangi. Susilawati berusia 21 tahun dan Fatimah baru menginjak 18 tahun.

Keduanya bukan hanya hidup di kampung yang sama. Tapi garis hidupnya pun tak jauh berbeda, yakni sama-sama gagal melanjutkan ke SMA maupun ke jenjang lebih tinggi.

Sederet masalah di kampung itu mulai konflik agraria, jalan yang buruk, dan gagal panen, membuat sebagian besar generasi mudanya hanya menyelesaikan pendidikan dasar. Bahkan tak sedikit yang putus sekolah.

Susilawati, misalnya, hanya lulusan SMP. Hasil panen yang tak tentu, membuat orangtuanya tak mampu membiayai sekolahnya lagi.

“Saya sedih banget, sampai menangis karena ingin melanjutkan sekolah. Padahal saya ingin jadi dokter,” kata Susi.

Hambatan lainnya dia berhenti sekolah, karena akses jalan kampung yang buruk serta licin di musim penghujan. Akibatnya dia sering terjatuh dari sepeda motor. Padahal dia harus menempuh waktu 30 menit dari kampungnya untuk menuju ke sekolah.

Kondisi jalan itu juga membuat Nur Fatimah, memutuskan berhenti sekolah saat duduk di kelas dua SMP. Sebab, kata Fatimah, dia sering terjatuh sehingga sepatunya lebih cepat rusak.

“Sebulan sekali harus membeli sepatu baru sehingga biaya sekolah jadi mahal. Orangtua pun tak sanggup membiayai,” kata perempuan berusia 18 tahun ini.

Fatimah pun akhirnya menikah di usia belia yakni 17 tahun —sama seperti sebagian besar perempuan di Kampung Bongkoran. Dengan menikah, dia berharap suaminya dapat membantu bertani orangtuanya yang lanjut usia.

Sama dengan Susi, Fatimah pun harus mengubur dalam cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.

Susi dan Fatimah bersama 13 perempuan lain kini sedang merintis usaha Sambal Bebiniq, yang diperkenalkan ke publik pada Senin 27 Agustus lalu. Bahan baku sambal itu diperoleh dari panenan cabai-cabai di sekitar mereka. Ada tiga varian Sambal Bebiniq yang bisa dinikmati yakni teri, ebi dan terasi.

Sebelum memproduksi Sambal Bebiniq, 15 perempuan tersebut terlebih dahulu mendapatkan pelatihan usaha dari Asosiasi Produsen Pangan Olahan Banyuwangi (Aspoba), penyuluhan keamanan pangan dari Dinas Kesehatan, dan pelatihan jurnalisme warga. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) yang berpusat di Jakarta melalui Program Citradaya Nita 2018. (Adv-Riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here