Beranda News Banyuwangi Cari Ide Pengembangan Sektor Ekonomi Baru, BI Jabar Bawa Pejabat Daerah ke...

Cari Ide Pengembangan Sektor Ekonomi Baru, BI Jabar Bawa Pejabat Daerah ke Banyuwangi

11
0
Bupati Anas saat bertemu Kepala BI Jabar, Dony P Joewono (Foto:MuhajirEfendi/RBT)

Radiobintangtenggara.com, Banyuwangi – Keberhasilan Pemkab Banyuwangi menjadikan daerahnya sebagai tujuan wisata nasional, mendorong banyak pihak untuk mempelajari praktek pelaksanaannya. Salah satunya adalah Bank Indonesia (BI) Jawa Barat yang membawa ratusan pejabat di lingkup Provinsi Jabar untuk sharing langsung pengembangan pariwisata ala Banyuwangi.

Rombongan tersebut dipimpin langsung Kepala BI Jabar, Dony P Joewono. Turut dalam rombongan Walikota Sukabumi Achmad Fahmi, Sekretaris Daerah Sumedang, dan puluhan kepala dinas dari kabupaten/kota di Jabar.

Dony menjelaskan bahwa Jabar kini tengah mencari sektor pertumbuhan ekonomi baru yang bisa menopang daerahnya. Mengingat, sektor manufaktur yang selama ini menjadi andalan Jabar tengah sedang mengalami perlambatan.

“Selama ini 43 persen pertumbuhan ekonomi Jabar didapat dari manufaktur, yang 90 persen di antaranya diekspor. Namun, sayangnya negara yang menjadi tujuan ekspor saat ini ekonominya sedang lesu, dan akhirnya ini sangat berpengaruh bagi kami. Akhirnya, Jabar tidak bisa lagi menggantungkan diri dari manufaktur. Kita harus mencari sumber pertumbuhan baru,” jelas Dony saat bertemu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jumat (19/7/2019).

Salah satu yang dibidik Jabar saat ini adalah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Jabar merasa perlu mengejar sektor ini untuk meningkatkan perekonomian daerahnya.

“Untuk itulah kami datang ke sini. Kami ingin belajar banyak bagaimana Banyuwangi mengakselerasi dua sektor tersebut. Kami melihat di sini atraksinya ditata dengan baik, dan melibatkan banyak warga. Penduduknya juga dikenal ramah wisatawan, kami ingin tahu resepnya,” kata Dony.

Hal itu juga diungkapkan Walikota Fahmi, yang sengaja datang ke Banyuwangi untuk bisa sharing banyak hal. “Saya ingin mendapat informasi langsung bagaimana Banyuwangi melakukan banyak hal. Kalau diajak BI ke daerah lain mungkin saya tidak ikut, tapi khusus ke Banyuwangi saya langsung iyakan,” ujar Fahmi.

Salah satu yang ingin dipelajari Fahmi adalah bagaimana Banyuwangi bisa mengkolaborasikan sinergi pentahelix abcgm (akademisi, bisnis, community, government, dan media).

“Yang unik menurut kami dari Banyuwangi adalah bagaimana bisa berkolaborasi secara pentahelix, kami butuh sharing masalah itu,” kata Fahmi.

Sementara itu, Bupati Anas menjelaskan bahwa pariwisata telah ditetapkan menjadi prioritas pembangunan di Banyuwangi. “Selain menjalankan program wajib seperti sektor pendidikan dan kesehatan, pariwisata menjadi prioritas daerah untuk dijalankan,” kata Anas.

Ditambahkan dia, atraksi yang dibuat pemkab dibalut dalam kemasan Banyuwangi Festival (B-Fest), yang digelar sejak 2012. Menurut Anas, ini bukan sekedar sebagai agenda wisata, namun ini adalah cara Banyuwangi melakukan konsolidasi di bidang budaya, infrastruktur, masyarakat, dan ekonomi.

“Dalam mengerjakan event B-Fest, kami mengerjakannya tanpa event organizer. Birokrat, masyarakat, swasta, hingga TNI/Polri terlibat di setiap pelaksanaan. Secara tak langsung kami akhirnya bergotong royong menyukseskan event, yang akhirnya menjadi modal sosial yang kuat Banyuwangi,” kata Anas.

Menurut Anas, dengan warga dilibatkan maka warga secara tidak langsung belajar menciptakan event yang bisa menarik wisatawan. “Ini adalah bentuk transfer knowledge untuk warga dalam membuat event yang kreatif. Dengan datangnya wisatawan, tentunya berdampak pada menggeliatnya ekonomi warga setempat,” jelas Anas.

“Banyak hal baik dan bermanfaat yang kami dapatkan dalam menggarap event B-Fest. Budaya kami juga terus tumbuh dan terpelihara karena separuh lebih adalah event tradisi dan budaya,” pungkas Anas. (*)

Muhajir Efendi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here